Karangasem – Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem merilis Infografis Surveilans Kesehatan Tahun 2026 yang menampilkan data kumulatif persebaran penyakit berpotensi menular pada Minggu ke-1 hingga Minggu ke-29. Data ini menjadi gambaran kondisi kesehatan masyarakat sekaligus dasar dalam menentukan strategi pencegahan dan pengendalian penyakit di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Karangasem.

Berdasarkan data surveilans, tercatat 25.361 kasus penyakit berpotensi menular selama periode pelaporan. Dari jumlah tersebut, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi, disusul oleh Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR), Diare Akut, Pneumonia, dan Dengue.

Ringkasan Kasus Penyakit

Selama Minggu ke-1 hingga Minggu ke-29 Tahun 2026, distribusi kasus penyakit adalah sebagai berikut:

Jenis Penyakit Jumlah Kasus Proporsi
ISPA 13.845 54,6%
GHPR (Rabies) 5.106 20,1%
Diare Akut 4.176 16,5%
Pneumonia 2.234 8,9%
Dengue 375 1,5%
Total Kasus 25.361 100%

Data tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh kasus penyakit menular yang dilaporkan merupakan ISPA, sehingga masih menjadi perhatian utama dalam upaya promotif dan preventif di masyarakat.

Puskesmas dengan Beban Kasus Tertinggi

Berdasarkan akumulasi seluruh jenis penyakit yang dipantau, lima fasilitas kesehatan dengan jumlah kasus terbanyak adalah:

  1. PKM Selat4.378 kasus
  2. PKM Abang I2.940 kasus
  3. PKM Karangasem I2.822 kasus
  4. PKM Sidemen1.999 kasus
  5. PKM Karangasem II1.861 kasus

Dominasi kasus pada lima puskesmas tersebut menunjukkan perlunya penguatan program promotif, preventif, serta peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan di wilayah dengan beban penyakit tinggi.

Distribusi Penyakit di Fasilitas Kesehatan

Grafik distribusi kasus memperlihatkan bahwa:

  • PKM Selat mencatat jumlah kasus tertinggi dengan dominasi ISPA.
  • PKM Abang I dan PKM Karangasem I juga menunjukkan beban kasus ISPA yang cukup besar disertai kasus GHPR dan Diare Akut.
  • RSUD Kabupaten Karangasem menjadi fasilitas rujukan dengan proporsi kasus Pneumonia yang lebih tinggi dibandingkan puskesmas lainnya.

Distribusi ini mencerminkan perbedaan karakteristik wilayah pelayanan maupun fungsi masing-masing fasilitas kesehatan, terutama rumah sakit sebagai pusat layanan rujukan.

Analisis Surveilans

Beberapa poin penting yang dapat disimpulkan dari data surveilans tahun 2026 antara lain:

  • ISPA masih menjadi penyakit dominan dengan lebih dari separuh total kasus yang dilaporkan.
  • Kasus GHPR masih cukup tinggi sehingga upaya pengendalian rabies melalui vaksinasi hewan, edukasi masyarakat, dan penanganan gigitan harus terus diperkuat.
  • Diare Akut masih menjadi salah satu penyakit utama yang memerlukan perhatian terhadap kualitas sanitasi lingkungan, kebersihan pangan, dan akses air bersih.
  • Kasus Pneumonia sebagian besar ditemukan pada fasilitas pelayanan rujukan, menunjukkan pentingnya deteksi dini dan tata laksana di tingkat pelayanan primer.
  • Kasus Dengue relatif lebih rendah dibanding penyakit lainnya, namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan terutama saat memasuki musim hujan.

Rekomendasi

Berdasarkan hasil surveilans, beberapa langkah yang dapat menjadi prioritas antara lain:

  • Meningkatkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk menekan kasus ISPA dan Diare.
  • Memperkuat program pengendalian rabies melalui vaksinasi hewan penular rabies dan edukasi penanganan gigitan.
  • Mengoptimalkan surveilans aktif dan deteksi dini penyakit di seluruh puskesmas.
  • Memperkuat koordinasi antara puskesmas dan rumah sakit dalam sistem rujukan kasus Pneumonia.
  • Meningkatkan pemberantasan sarang nyamuk dan pemantauan jentik sebagai langkah pencegahan Dengue.